Investasi adalah pilihan keuangan yang cerdas. Namun, banyak orang bertanya-tanya kapan waktu yang tepat untuk berinvestasi? Karena investasi adalah seperti membangun masa depan finansial diri kamu, lho! . Pemilihan waktu yang tepat sangatlah penting, oleh karena itu, di artikel kali ini akan menjelaskan secara rinci apa yang harus kamu perhatikan ketika ingin memulai perjalanan investasi.

Sebelum masuk lebih mendalam terkait waktu terbaik berinvestasi dan syarat-syarat yang mengikutinya, Anda perlu mengetahui istilah di bawah ini!

Apa Itu Siklus Pasar?

Siklus pasar adalah pola pergerakan harga saham yang berulang di waktu tertentu. Siklus ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kondisi ekonomi makro, politik, dan psikologi pasar. Keuntungan memahami siklus pasar tentu dapat membantu investor untuk membuat keputusan investasi yang tepat dan memperoleh keuntungan maksimal.

Nah , siklus pasar sendiri bergerak di atas ekspektasi dan antisipasi oleh kondisi ekonomi di masa depan. Sehingga, siklus pasar ini seringkali disebut sebagai indikator utama dari tren pertumbuhan ekonomi di masa depan. 

Setelah kamu dapat mengetahui siklus pasar dan fungsinya, kamu bisa segera memulai investasi, pasalnya investasi yang dilakukan harus sedari dini agar dapat memperoleh hasil yang optimal di masa depan. Tentunya dibutuhkan kesabaran dan konsistensi untuk benar-benar memahami investasi saham. Karena tidak ada hasil yang memuaskan dalam sekejap. Jadi, penting memahami siklus pasar sebelum menentukan waktu investasi Anda. Serta kamu juga wajib memeriksa secara berkala siklus pemahaman dengan mencari tahu beragam info pasar saham.

Macam Macam Siklus Pasar

Siklus pasar saham memiliki empat fase yang setiap siklus memiliki karakteristik yang berbeda, peluang hingga risiko pun kian berbeda, fase-fase tersebut yaitu:

1. Fase Akumulasi

Fase akumulasi merupakan tahap awal dalam siklus saham, di sini kamu akan menemukan pergerakan harga saham cenderung stabil atau bergerak mendatar. Pada fase ini, investor institusional secara perlahan membeli saham untuk mencegah gangguan harga yang signifikan.

Dalam hal ini, yang menampilkan fase akumulasi yaitu:

  • Investor institusional melakukan pembelian saham secara bertahap.
  • Harga saham bergerak pada kisaran tertentu.
  • Volume perdagangan mungkin rendah karena kurangnya perhatian investor ritel.

Tahap ini dianggap cukup memakan waktu lama hingga bertahun-tahun, dan mungkin kurang mendapat perhatian investor ritel karena pergerakan harganya yang cenderung tidak menarik. Namun, untuk investasi jangka panjang, ini menjadi peluang bagi investor dalam memposisikan diri dalam saham yang potensial sebelum ke tahap selanjutnya.

2. Fase Mark Up

Setelah fase akumulasi, fase mark up dimulai ketika harga saham berhasil menembus tingkat resistensi dan mulai mengalami kenaikan. Pada tahap ini, investor yang sebelumnya tidak membeli di fase akumulasi mulai tertarik dan ikut membeli saham.

Dalam fase ini, ditandai oleh,

  • Harga saham menembus resistensi dan mulai meningkat.
  • Volume perdagangan meningkat karena minat beli yang tinggi.
  • Pergerakan harga saham dari netral menjadi tren naik.

Pada tahap ini, investor dapat memanfaatkan teknik analisis untuk mengenali tren serta menentukan tingkat support dan resistensi. Fase kenaikan harga ( mark up ) seringkali menarik minat lebih banyak investor, hingga tren naik hingga mencapai titik puncaknya.

3. Fase Distribusi

Fase distribusi adalah tahap di mana harga saham mencapai titik tertinggi. Para investor pun mulai melepaskan saham mereka. Pada fase ini, terjadi rotasi, baik pembeli awal maupun pembeli yang datang belakangan mulai meninggalkan pasar.

Fase ini ditandai dengan kondisi yang di antaranya:

  • Volume perdagangan meningkat tanpa kenaikan harga.
  • Pembeli baru tidak cukup untuk mendorong harga lebih tinggi.
  • Polanya dapat dikenal melalui pola grafik seperti head and shoulder.

Fase distribusi seringkali ditandai dengan melambungnya volume perdagangan yang mencapai puncaknya karena kondisi pasar meningkat secara konsisten dan mencapai tren. Namun, jika pembeli baru tidak mampu menampung tekanan jual, harga saham bisa berubah.

4. Fase Penurunan Harga

Fase mark down merupakan tahap akhir dalam siklus saham, ditandai dengan harga saham yang menurun tajam. Banyak investor yang menghindari upaya fase ini karena berpotensi menyebabkan kerugian besar, terutama bagi mereka yang telah membeli saham pada fase distribusi.

Contoh dari fase akhir siklus saham yaitu,

  • Pembeli yang terjebak di fase distribusi mulai menjual.
  • Tidak banyak pembeli baru untuk menyerap penjualan.
  • Harga saham turun dengan cepat dan volume perdagangan tinggi.

Fase ini umumnya selesai ketika harga saham mencapai level support yang signifikan, disertai dengan aktivitas tajam dalam volume perdagangan. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan penjualan telah mereda, sehingga saham siap masuk pada tahap akumulasi.

Tentu dengan memahami fase-fase siklus pasar, Anda bisa lebih siap memahami fluktuasi pasar dalam mencegah pembelian aset saat harga melonjak serta siap mengoptimalkan investasi saham Anda di titik terendah suatu harga.

Memahami Timing Investasi, Kapan Waktu Strategi dalam Investasi?

Timing investasi adalah kemampuan untuk menentukan waktu terbaik untuk membeli atau menjual aset berdasarkan analisis siklus pasar. Bicara soal waktu strategi dalam berinvestasi, sebetulnya tidak ada waktu terbaik. Waktunya tergantung pada jenis investasi apa yang kamu pilih, tujuan apa yang ingin dicapai, serta kesesuaian dengan anggaran atau modal awal kamu.

Pemisalan ketika kamu memilih jenis investasi reksa dana, maka jangka waktu investasi harus panjang. Perkiraan waktu investasi portofolio ini sekitar lebih dari lima tahun.

Perlu diketahui, semakin panjang jangka waktu investasi, maka akan semakin berpotensi memberikan imbal hasil yang tinggi, karena sewaktu-waktu investor dapat mengalami fluktuasi jangka pendek. 

Jika investor hanya bersedia menanggung risiko dalam jangka waktu menengah, yaitu antara 3-5 tahun, maka pilihan investasi dapat dibagi menjadi dua yaitu, setengahnya diinvestasikan pada saham atau reksa dana saham, sementara sisanya dapat dialokasikan ke instrumen obligasi atau surat utang negara. Jika memilih reksa dana, dana investasi bisa dialokasikan ke reksa dana campuran. 

Selanjutnya, di artikel berikut ini akan menjelaskan tentang cara kerja properti yang dapat kamu pelajari. 

Baca Juga: Mulai Cara Kerja Properti! Mengetahui Jenis dan Trik Keuntungan

Dengan pengetahuan siklus pasar dan beberapa fasenya, Anda dapat lebih bijak dalam menentukan kapan harus membeli atau menjual saham. Menentukan strategi pembelian atau penjualan saham seperti apa, hingga meningkatkan potensi keuntungan dengan strategi yang sesuai. Semoga artikelnya dapat membantu ya!