Faktanya, kesadaran orang terhadap self-care semakin meningkat akhir-akhir ini, terutama kesadaran akan kesehatan mental. Dalam dunia yang serba cepat dan penuh tekanan, self-care menjadi kebutuhan bagi semua orang, bukan lagi sekadar pilihan. Tanpa self-care yang cukup, seseorang bisa mengalami burnout, stres berkepanjangan, dan gangguan mental.

Self-care sangat penting dilakukan oleh semua orang dari cara yang paling sederhana untuk healing, mencegah kehilangan jati diri, dan bekerja dengan lebih maksimal di kemudian hari.

Pengertian Self-Care

Self-care adalah aktivitas yang dilakukan untuk menjaga kesehatan fisik, mental, dan emosional. Konsep ini bukan hanya tentang perawatan tubuh secara fisik, tetapi juga melibatkan emosional, pengelolaan stres, dan membangun kebiasaan sehat. Bagi orang yang mulai merasa stres dan burnout, kemungkinan besar ia membutuhkan self-care untuk memperbaiki dirinya sendiri secara jasmani dan rohani.

Mindset Generasi Milenial terhadap Self-Care

Bagi generasi milenial (lahir tahun 1986 -1996), self-care identik dengan aktivitas fisik seperti olahraga, liburan, atau me-time selesai bekerja. Mereka menganggap self-care sebagai healing dan self-reward setelah burnout bekerja keras. 

Mindset Gen Z terhadap Self-Care

Gen Z memiliki anggapan mengenai self-care sebagai konsep yang lebih luas. Mereka tidak hanya fokus pada kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental, emosional, dan spiritual. Gen Z adalah generasi yang vokal dalam membicarakan isu kesehatan mental dan open-minded dalam mencari bantuan profesional jika dibutuhkan.

Self-Care ala Generasi Milenial

Tanggapan generasi milenial terhadap self-care lebih berfokus kepada cara memulihkan diri setelah lelah bekerja keras seharian. Generasi milenial menghibur dirinya sendiri memfokuskan kepada fisik yang lebih sehat, menghabiskan waktu sendiri, dan liburan. Berikut beberapa contoh self-care ala generasi milenial:

1. Self-Care Berbasis Aktivitas Offline

Generasi milenial tumbuh di era transisi digital dimana teknologi dan internet masih dalam tahap perkembangan dan belum terlalu canggih. Generasi milenial cenderung melibatkan aktivitas offline seperti membaca buku, journalling,atau meditasi.

Keterbatasan dalam teknologi dan internet di era generasi milenial, membuat mereka mencari aktivitas offline yang dapat dimaksimalkan untuk self-care. Self-care dengan gaya ini bisa melibatkan perjalanan jauh dan terkait dengan outdoor seperti traveling dan yoga.

2. Menekan Perasaan dan Independen

Generasi milenial cenderung mengandalkan diri sendiri dalam mengatasi masalah mental dan emosional yang dialami. Mereka menghindari mencari bantuan profesional, dan mengalihkan perasaan negatif tersebut dengan aktivitas lain seperti mencari hiburan.

Generasi milenial memiliki pola pikir tersendiri mengenai bantuan mental dari profesional. Banyak dari generasi milenial memiliki stigma bahwa datang ke psikiater atau psikolog itu masih tabu, tidak benar-benar bisa mengatasi, dan berlebihan.

3. Menggunakan Media Konvensional sebagai Alat Self-Care

Generasi milenial yang tumbuh di era teknologi yang masih di tahap perkembangan, terbiasa menggunakan media konvensional sebagai alat self-care. Mereka lebih selektif dalam mencari informasi dan inspirasi pengembangan diri. 

Generasi milenial juga memanfaatkan podcast di radio dan mendatangi acara seminar yang bertemakan self-development dan self-care untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Self-Care Open Minded dengan Cara Gen Z

Gen Z mendefinisikan self-care sebagai aspek yang lebih luas, sehingga cara yang dilakukan juga lebih beragam dan inovatif. Gen Z juga dikenal sebagai generasi yang kritis, vokal, dan berani dalam menyuarakan pendapatnya tentang segala aspek kehidupan. Berikut cara-cara Gen Z menerapkan self-care:

1. Self-Care yang Adaptif dengan Teknologi

Sebagai generasi yang tumbuh di era digital maju dan kehidupan modern, Gen Z memanfaatkan teknologi sebagai bagian dari self-care. Gen Z yang cerdas, dapat menggunakan keunggulannya di bidang teknologi untuk hal positif dan self-development.

Gen Z biasa memanfaatkan aplikasi meditasi seperti Headspace sebagai bagian dari self-care. Selain itu mereka juga menonton konten-konten edukatif mengenai kesehatan mental di media sosial.

2. Terbuka terhadap Masalah Emosional

Gen Z cenderung mengekspresikan masalah mental dan emosional yang dihadapi di lingkungan dan media sosial, hal itu karena Gen Z memiliki karakter yang open minded sehingga hal tersebut tidak dianggap tabu. 

Hal tersebut juga berlaku dalam keputusan untuk mencari bantuan profesional. Gen Z merasa nyaman saat mendapatkan bantuan profesional saat membutuhkan untuk terapi atau konseling. Gen Z juga tidak ragu untuk cut-off orang-orang yang dirasa toxic di hidupnya.

3. Mengakses Teknologi sebagai Self-Care

Berbeda dengan generasi Milenial, Gen Z lebih aktif dalam mencari konten tentang self-care dan kesehatan mental di internet melalui gadget. Gen Z banyak tertarik kepada influencer self-care dan kesehatan mental di berbagai platform seperti Tiktok, Instagram, dan Youtube.

Gen Z merasa nyaman menceritakan pengalaman dan kondisi mental yang mereka alami ke masyarakat luas melalui internet. Gen Z juga seringkali menginspirasi dan menyebarkan informasi di internet.

Cara self-care versi Gen Z dan generasi Milenial keduanya sama-sama baik. Kesadaran mengenai self-care yang dimiliki kedua generasi tersebut sudah sangat bagus. Sejatinya, metode self-care yang paling baik adalah self-care yang sesuai dengan kebutuhan pribadi masing-masing.

Baca juga Tips Meningkatkan Literasi Keuangan Kepada Generasi Zuntuk meningkatkan pengetahuan mengenai literasi keuangan kepada Gen Z!