
Di era maraknya media sosial, informasi menyebar luas dengan sangat cepat. Begitu juga dengan update kehidupan pribadi seseorang yang sangat mudah diakses di internet. Hal ini dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk membagikan aspek-aspek di kehidupannya seperti kehidupan sosial, pendidikan, dan fashion.
Orang yang sering membagikan kehidupannya di media sosial tentang aspek fashion tentunya suka flexing terhadap barang-barang fashion dengan merk ternama yang menjadikan logo sebagai simbol kemewahan. Tak jarang beberapa orang menganggap barang-barang yang dipakai seseorang dinilai sebagai status ekonomi mereka.
Seiring waktu, gaya hidup mulai berubah. Saat ini, Gen Z lebih prefer membeli barang mewah yang tidak mencolok dan lebih understated atau memprioritaskan kualitas barang dibanding membuktikan kepada semua orang status ekonomi dan sosial.
Pergeseran dari Flexing Culture ke Quiet Luxury
Awalnya, media sosial dipenuhi dengan gaya hidup flexing di mana orang cenderung mengunggah barang-barang mewah yang mencolok. Barang-barang tersebut dianggap menjadi simbol kesuksesan seseorang. Hal ini tidak terlepas dari pengaruh publik figur yang sering melakukan flexing.
Salah satu contoh selebriti yang bergaya loud luxury adalah Kim Kardashian dengan baju mewah berlogo Gucci. Selain itu dari selebriti tanah air, keluarga Gen Halilintar kerap kali menerima kritikan karena cara mereka berpakaian yang mencolok dan sering flexing barang merek mewah.
Namun, saat ini Gen Z merasa hal tersebut sudah tidak diperlukan lagi. Berikut beberapa faktor yang menyebabkan pergeseran gaya hidup dari flexing ke Quiet Luxury:
1. Pengurangan Gaya Hidup Konsumtif
Gen Z saat ini sudah sadar bahwa kepemilikan barang mewah sudah bukan menjadi tolak ukur kesuksesan seseorang. Nyatanya, kehidupan yang diperlihatkan di media sosial belum tentu benar-benar bahagia dan sukses seperti di realita. Saat ini sudah banyak jasa pinjaman barang-barang mewah yang tak disangka banyak peminatnya.
Bagi sebagian orang, jasa tersebut dianggap nyeleneh karena dirasa tidak penting. Namun, kenyataannya jasa tersebut banyak diminati, seperti jasa pinjam Iphone, tas merk, transportasi eksklusif seperti jet pribadi atau mobil mewah. Gen Z yang sadar bahwa hal ini tidak diperlukan lagi, mulai berubah.
2. Kualitas Barang Menjadi Prioritas
Gen Z lebih mengutamakan kualitas dan atensi yang diberikan saat membuat produk daripada hanya popularitas merk. Sejatinya, barang yang lebih memperhatikan dan memberi sentuhan lebih detail untuk produknya pasti akan menghasilkan barang yang berkualitas. Terkadang brand-brand yang underrated atau masih jarang dikenali orang, punya keistimewaan tersendiri.
Sedangkan brand yang overrated atau sangat digemari banyak orang dan menjadi andalan, punya kelemahan yang tidak sesuai dengan harga barangnya. Hal ini menyebabkan Gen Z mulai beralih ke brand yang underrated.
3. Gaya Hidup Sustainable
Gen Z dikenal sebagai generasi yang kritis, vokal, dan memiliki pola pikir berorientasi pada masa depan. Gerakan-gerakan sosial tentang kepedulian lingkungan yang diinisiasi oleh Gen Z berdampak baik bagi keberlanjutan lingkungan. Salah satu pengaruhnya ada di gaya hidup Gen Z dalam membeli barang.
Gen Z mengutamakan brand yang ramah lingkungan dalam proses produksi. Cruelty free juga menjadi pertimbangan besar bagi Gen Z saat memutuskan membeli barang dari brand tertentu. Hal ini menyebabkan Gen Z menghindari brand fast fashion dan belanja impulsif.
Berkembangnya Quiet Luxury
Mulai tergerusnya gaya hidup flexing culture, membuat quiet luxury semakin berkembang. Gaya hidup ini terjadi saat seseorang yang memiliki kekayaan merasa tidak perlu menunjukkannya ke orang lain. Sebagian orang merasa kalau barang dengan kualitas bagus akan tetap terlihat mahal dan layak tanpa perlu membuatnya mencolok dan memasang logo mewah.
Gaya hidup quiet luxury banyak terlihat pada tokoh-tokoh sukses seperti Steve Jobs sang pendiri Apple yang terkenal selalu memakai kaos model turtleneck yang simpel tapi terlihat premium dan decent.
Selain itu, tokoh sukses Mark Zuckerberg sang pendiri Facebook yang terkenal selalu memakai kaos abu-abu yang sama. Ia memiliki pemikiran memakai kaos model yang sama setiap hari untuk mengurangi kelelahan akibat terlalu banyak keputusan.
Rekomendasi brand quiet luxury yang bisa kamu coba yaitu The Row, Loro Piana, Loewe, Celine, dan Polene. Gaya hidup flexing culture atau loud luxury sering kali dikaitkan dengan orang dengan istilah old money. Old money adalah istilah yang merujuk kepada keluarga atau individu yang dianggap sudah lama diwariskan kekayaan atau keberuntungan finansial selama beberapa generasi.
Sedangkan individu atau keluarga yang baru mendapatkan kekayaan dan mengalami keberuntungan finansial dijuluki OKB atau singkatan dari orang kaya baru. Seseorang yang baru mempunyai uang banyak cenderung ingin memamerkan ke semua orang kalau dirinya mampu membeli barang-barang mewah, sehingga terkadang memilih gaya hidup flexing.
Itulah pembahasan mengenai gaya hidup Gen Z yang tengah mengalami perubahan dari flexing menjadi quiet luxury. Baca juga “Simple dan Keren! 7 Inspirasi Outfit untuk Kamu Saat Kuliah” agar kamu dapat ide mix and match yang oke untuk kuliah!