Di era digital yang semakin maju, kemampuan teknologi untuk memanipulasi informasi telah berkembang pesat. Salah satu bentuk manipulasi yang paling canggih saat ini adalah deepfake dan disinformasi. Keduanya memiliki dampak besar terhadap persepsi publik dan kepercayaan masyarakat terhadap informasi di internet. Lalu, apa bahaya deepfake dan disinformasi dan bagaimana cara mengidentifikasinya? Berikut adalah penjelasannya.

Apa Itu Deepfake dan Disinformasi?

Deepfake adalah teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang digunakan untuk memanipulasi video, audio, atau gambar agar terlihat sangat nyata. Teknologi ini memungkinkan seseorang untuk mengubah wajah atau suara seseorang dalam video sehingga dapat terlihat dan terdengar seperti individu lain. Dengan deepfake, seseorang dapat membuat video atau audio yang menampilkan seseorang melakukan atau mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah terjadi.

Sedangkan disinformasi adalah penyebaran informasi yang salah atau menyesatkan yang sengaja disebarkan untuk mempengaruhi opini publik atau menipu orang. Berbeda dengan misinformasi yang mungkin terjadi karena ketidaktahuan atau kesalahan, disinformasi dilakukan dengan niat tertentu, sering kali untuk keuntungan politik atau ekonomi.

Bahaya Deepfake dan Disinformasi

Deepfake dan disinformasi memiliki beberapa dampak negatif yang signifikan terhadap masyarakat. Berikut adalah bahaya deepfake dan disinformasi.

1. Ketidakpercayaan terhadap Media

Deepfake dapat membuat orang meragukan keaslian berita, video, atau rekaman suara yang beredar. Ketika masyarakat mulai kehilangan kepercayaan terhadap media, distribusi informasi di internet akan semakin kacau. Selain itu, penyebaran hoaks dan disinformasi juga semakin mudah untuk memengaruhi masyarakat..

2. Pengaruh Terhadap Opini Publik

Disinformasi sering kali sengaja dirancang untuk mempengaruhi opini publik dalam isu-isu politik atau sosial. Misalnya, menjelang pemilihan umum, disinformasi tentang kandidat politik dapat merusak reputasi mereka atau memengaruhi keputusan pemilih.

3. Membahayakan Individu dan Reputasi

Deepfake yang digunakan untuk membuat video palsu seseorang dapat merusak reputasi dan menyebabkan dampak psikologis. Misalnya, deepfake yang menampilkan seseorang dalam situasi yang tidak pantas dapat menimbulkan masalah hukum atau sosial bagi individu tersebut.

Teknologi di Balik Deepfake

Deepfake memanfaatkan teknik Generative Adversarial Networks (GAN) yang memungkinkan AI “belajar” dari data wajah atau suara yang ada untuk menghasilkan konten yang tampak asli. GAN bekerja dengan dua jaringan: satu yang menciptakan gambar atau video palsu dan yang lain mencoba mendeteksi apakah gambar tersebut palsu atau asli.

Hasil akhirnya adalah konten palsu yang cenderung realistis dan sulit dibedakan dari yang sebenarnya. Namun, bukan berarti tidak bisa. Di bawah ini adalah cara mengidentifikasi konten yang telah dimanipulasi deepfake.

Cara Mengidentifikasi Deepfake dan Disinformasi

Meskipun deepfake dan disinformasi sangat canggih, ada beberapa cara untuk mengidentifikasi dan melindungi diri dari dampaknya. Berikut adalah cara mengidentifikasinya.

1. Perhatikan Detail Visual dan Audio

Deepfake sering kali memiliki kejanggalan seperti pergerakan wajah yang tidak alami, kedipan mata yang tidak normal, atau suara yang terdengar sedikit aneh. Memperhatikan detail-detail ini dapat membantu mengenali deepfake. Dikutip dari MIT, ada beberapa tips dalam memerhatikan konten yang telah dimanipulasi deepfake. Berikut adalah tipsnya.

  • Perhatikan wajah. Manipulasi deepfake kelas atas cenderung selalu merupakan transformasi wajah.
  • Perhatikan bagian pipi dan dahi. Apakah kulit tampak terlalu halus atau terlalu keriput? Apakah usia kulit sama dengan usia rambut dan mata?
  • Perhatikan mata dan alis. Apakah bayangan muncul di tempat yang seharusnya? Deepfake sering gagal untuk sepenuhnya memberikan efek alami dari sebuah adegan.
  • Perhatikan kacamata. Apakah ada silau? Apakah ada terlalu banyak silau? Apakah sudut silau berubah saat orang tersebut bergerak? Sekali lagi, deepfake sering gagal untuk sepenuhnya mewakili efek fisika alami terutama pencahayaan.
  • Perhatikan rambut di wajah (kumis dan janggut) atau kekurangannya. Apakah rambut wajahnya terlihat nyata? Deepfake mungkin dapat menambah atau menghapus kumis, cambang, atau janggut. Namun, deepfake cenderung kesulitan membuat transformasi rambut wajah terlihat alami.
  • Perhatikan tahi lalat di wajah. Apakah tahi lalat terlihat nyata?
  • Perhatikan kedipan. Apakah orang tersebut berkedip cukup atau terlalu banyak?
  • Perhatikan ukuran dan warna bibir. Apakah ukuran dan warnanya cocok dengan bagian lain wajah orang tersebut?

2. Verifikasi Sumber Berita

Saat mendapatkan informasi yang kontroversial atau mengejutkan, selalu periksa sumber beritanya. Pastikan informasi tersebut berasal dari sumber terpercaya atau media yang diakui.

Baca Juga: Hoaks: Jenis, Dampak, Cara Mengatasi

3. Gunakan Alat Pemeriksa Fakta

Ada berbagai situs dan alat pemeriksa fakta yang dapat membantu memverifikasi kebenaran informasi. Beberapa platform media sosial juga mulai menandai konten yang memiliki risiko disinformasi, sehingga pengguna dapat lebih waspada.

Deepfake dan disinformasi adalah bentuk manipulasi informasi yang dapat merusak kepercayaan publik dan menciptakan kebingungan di masyarakat. Dengan memahami teknologi di balik deepfake dan disinformasi serta dampaknya, kita bisa menjadi lebih bijak dalam menerima informasi. Kewaspadaan dan literasi digital adalah kunci untuk menghadapi tantangan ini di era digital. Semoga artikel ini bermanfaat!